Beranda Pendiri
Profil Sistem Pendidikan Fasilitas Galeri Photo Informasi Buku tamu Kontak Peta Situs

 

25 Do'a
dari
Al Qur'an
 
Kitab Kajian Islam
 
 
:: Mutiara
Al Qur'an
"Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang Mukmin, tetapi orang munafik itu tidak mengetahui."
(Al-Munafiqun : 8)

Al Hadits
Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim
(Ibn Majah, al-Baihaqi dan Ibn Abd al-Barr)

 
 
BUKU TAMU
 

halaman 1 dari 100.

 Kirim Komentar 

PT Premiera Nusantara | Jakarta, 03-04-2014 10:07
Dengan Hormat,
Bersama ini kami PT. Premiera Nusantara, yang bergerak dalam bidang Full Service Operator Vending Mesin, ingin mengajukan penawaran kerjasama dalam hal penempatan smart vending mesin di lokasi Pondok Pesantren AL Hamidiyah.

Salam,

Seno Premiera

Toko Buku Toha Putra | Citayam, 10-03-2014 02:48
Assalamaualaikum..Wr.Wb.
Salam Istimewa Buat Antum Semua..
Toko Buku Toha Putra - Citayam.
Penerbit : PT.KARYA TOHA PUTRA SEMARANG-JAKARTA.
Buku Islam,Pelajaran,MI,MTS,MA,KITAB", AL-QUR'AN ,TERJEMAHAN,TAJWID,ATK,DLL.
Jln.Bojong Gede Raya No.31.PABUARAN,
Dekat RS.CITAMA PABUARAN & SOLITE.
Telp : 021-91662565 / 081317351737.
WASSALAMUALAIKUM..TOLONG BANTU SHARE YA..SYUKRON.

PANJI | Depok, 20-02-2014 03:37
BERKAH SHALAWAT; DARJO KULI KASAR YANG UTUH JASADNYA
Minggu, 16 Februari 2014 13:43

Waktu mondok saya mondok di Kedung Paruk Purwokerto. DISANA ADA TUKANG KULI ANGKUT BERNAMA DARJO, PEKERJA KASAR, ADA BERAS YA NGANGKUT BERAS. Biasa setelah salat subuh tidur sebentar jam 7 keluar kerja kepasar. PAK DARJO PEKERJA KASAR WAFAT. SETELAH 9 TAHUN ANAKNYA KEMUDIAN WAFAT. Maksudnya karena tempatnya sempit, ditempat pemakaman itu banyak orang saleh seperti ayahya Mbah Kiai Abdul Malik yaitu Kiai Ilyas.

AKHIRNYA KUBURAN PAK DARJO MAU DIBONGKAR, TERNYATA KAIN KAPANNYA MASIH UTUH, WANGI LUAR BIASA SEPERTI BARU DIMAKAMKAN BEBERAPA JAM.
Setelah kejadian itu saya menghadap ke guru saya Mbah Kiai Abdul Malik. Mbah Kiai Abdul Malik sedang duduk santai didepan rumah, tersenyum melihat kedatangan saya. Tiba-tiba mbah Malik bilang, pie Darjo mayite isih utuh; Darjo mayitnya masih utuh? Belum bicara Mbah Malik sudah menjelaskan. KATA BELIAU, DARJO KUI WONG AHLI SHALAWAT ORA TAHU TINGGAL SHALAWAT, TIAP BENGI DURUNG TURU SADURUNGE MOCO SHALAWAT 16.000. Darjo itu istiqamah tiap malam tidak pernah meninggalkan membaca shalawat, sebelum membaca shalawat 16.000 Darjo tidak akan tidur. Shalawatnya Allahumma shali ala Muhammad, Allahumma Shali ala Muhammad. Lahirnya kuli kasar ternyata Pak Darjo temasuk orang saleh.
Kita yang tidak harus 16.000, minimal 300 saja setiap malam sudah bagus.
SIAPA YANG MEMBACA SHALAWAT TIAP HARI BUAT KELUARGA DAN PUTRA-PUTRINYA TIAP MALAM 300 KALI, INSYA ALLAH PUTRA-PUTRINYA AKAN DIBERKAHI, DAN JIKA NAKAL SENAKAL APAPUN ANAKNYA, PADA WAKTUNYA AKAN MENJADI BAIK. INSYA ALLAH.
Maulana Habib Lutfi bin Yahya berpesan. (Tsi)


Hadi | Depok, 22-01-2014 12:07
"DIBANDING KELUARAN SEKOLAH, ALUMNI PESANTREN DINILAI LEBIH BERPERAN SECARA AKTIF DI MASYARAKAT". Keaktifan mereka bahkan tidak hanya terbatas pada wilayah keagamaan. Mereka bahkan memiliki kesadaran untuk membangun masyarakatnya di sektor perekonomian, sosial, dan juga politik.

Demikian dikatakan Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh dalam halaqah ulama yang menjadi rangkaian acara Rapat Kerja Wilayah pengurus Rabithatul Ma’ahid Islamiyah (RMI) Jawa Tengah di asrama haji Islamic Centre Jawa Tengah, Sabtu (18/1/2014).

Dalam halaqah bertema “PERAN STRATEGIS RMI DALAM PEMBERDAYAAN PESANTREN SALAF”, Kiai Ubaidillah mengatakan, “KIPRAH SOSIAL ALUMNI MENJADI BAGIAN TAK TERPISAHKAN DARI PESANTREN SALAF ITU SENDIRI.”

Ia menyatakan, ketika sampai di rumah etos kerja alumni pesantren jauh lebih baik dari pada alumni sekolah-sekolah. Namun, ia tidak memberikan penilaian mutlak. Menurutnya, alumni pesantren yang aktif itu ialah mereka yang sudah mathon.

Sekurangnya, lanjut Kiai Ubaidillah, mereka sudah khatam dari pesantren tersebut, bukan mereka yang DO (drop out) dari pesantren. Pesantren, menurutnya, hanya memberikan ilmu dasar untuk menjalani kehidupan. Bila sudah lulus dari pesantren, “PASTI PIKIRAN MEREKA KELUAR SENDIRI,” tegas Kiai Ubaidullah sambil menepis anggapan suram kehidupan santri setelah lulus. (Mukhamad Zulfa/Alhafiz K)

Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2014/01/alumni-pesantren-lebih-aktif-di.html#ixzz2r54x5KHd


Hadi | Bintaro Sektor 3 A, 16-01-2014 01:28
10 Nasehar KH Hasyim Asy'ari Bagi Santri / Penuntut Ilmu

Dalam Kitab-nya Adabul 'Alim wal Muta'allim, KH.M.Hasyim Asy'ari merangkum etika-etika santri atau pelajar sebagaimana berikut:

Pertama, seorang santri hendaknya membersihkan hatinya dari segala hal yang dapat mengotorinya seperti dendam, dengki, keyakinan yang sesat dan perangai yang buruk. Hal itu dimaksudkan agar hati mudah untuk mendapatkan ilmu, menghafalkannya, mengetahui permasalahan-permasalahan yang rumit dan memahaminya.

Kedua, hendaknya memiliki niat yang baik dalam mencari ilmu, yaitu dengan bermaksud mendapatkan ridho Allah, mengamalkan ilmu, menghidupkan syariat Islam, menerangi hati dan mengindahkannya dan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai berniat hanya ingin mendapatkan kepentingan duniawi seperti mendapatkan kepemimpinan, pangkat, dan harta atau menyombongkan diri di hadapan orang atau bahkan agar orang lain hormat.

Ketiga, hendaknya segera mempergunakan masa muda dan umurnya untuk memperoleh ilmu, tanpa terpedaya oleh rayuan "menunda-nunda" dan "berangan-angan panjang", sebab setiap detik yang terlewatkan dari umur tidak akan tergantikan. Seorang santri hendaknya memutus sebisanya urusan-urusan yang menyibukkan dan menghalang-halangi sempurnanya belajar dan kuatnya kesungguhan dan keseriusan menghasilkan ilmu, karena semua itu merupakan faktor-faktor penghalang mencari ilmu.

Keempat, menerima sandang pangan apa adanya sebab kesabaran akan ke-serba kekurangan hidup, akan mendatangkan ilmu yang luas, kefokusan hati dari angan-angan yang bermacam-macam dan hikmah hikmah yang terpancar dari sumbernya.

Imam As-Syafi'i Ra berkata, tidak akan bahagia orang yang mencari ilmu disertai tinggi hati dan kemewahan hidup. Tetapi yang berbahagia adalah orang yang mencari ilmu disertai rendah hati, kesulitan hidup dan khidmah pada ulama.

Kelima, pandai membagi waktu dan memanfaatkan sisa umur yang paling berharga itu. Waktu yang paling baik untuk hafalan adalah waktu sahur, untuk pendalaman pagi buta, untuk menulis tengah hari, dan untuk belajar dan mengulangi pelajaran waktu malam. Sedangkan tempat yang paling baik untuk menghafal adalah kamar dan tempat-tempat yang jauh dari gangguan. Tidak baik melakukan hafalan di depan tanaman, tumbuhan, sungai dan tempat yang ramai.

Keenam, makan dan minum sedikit. Kenyang hanya akan mencegah ibadah dan bikin badan berat untuk belajar. Di antara manfaat makan sedikit adalah badan sehat dan tercegah dari penyakit yang di akibatkan oleh banyak makan dan minum, seperti ungkapan syair yang artinya: "Sesungguhnya penyakit yang paling banyak engkau ketahui berasal dari makanan atau minuman."
Hati dikatakan sehat bila bersih dari kesewenang-wenangan dan kesombongan. Dan tidak seorangpun dari para wali, imam dan ulama pilihan memiliki sifat atau disifati atau dipuji dengan banyak makannya. Yang dipuji banyak makannya adalah binatang yang tidak memiliki akal dan hanya dipersiapkan untuk kerja.

Ketujuh, bersikap wara' (mejauhi perkara yang syubhat 'tidak jelas ' halal haramnya) dan berhati-hati dalam segala hal. Memilih barang yang halal seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan semua kebutuhan hidup supaya hatinya terang, dan mudah menerima cahaya ilmu dan kemanfaatannya. Hendaknya seorang santri menggunakan hukum-hukum keringanan (rukhsoh) pada tempatnya, yaitu ketika ada kebutuhan dan sebab yang memperbolehkan. Sesungguhnya Allah senang bila hukum rukhsohnya dilakukan, seperti senangnya Allah bila hukum 'azimahnya (hukum sebelum muncul ada sebab rukhsoh) dikerjakan.

Kedelapan, meminimalisir penggunaan makanan yang menjadi penyebab bebalnya otak dan lemahnya panca indera seperti buah apel yang asam, buncis dan cuka. Begitu juga dengan makanan yang dapat memperbanyak dahak (balgham) yang memperlambat kinerja otak dan memperberat tubuh seperti susu dan ikan yang berlebihan. Hendaknya seorang santri menjauhi hal-hal yang menyebabkan lupa seperti makan makanan sisa tikus, membaca tulisan di nisan kuburan, masuk di antara dua unta yang beriringan dan membuang kutu hidup-hidup.

Kesembilan, meminimalisir tidur selama tidak berefek bahaya pada kondisi tubuh dan kecerdasaan otak. Tidak menambah jam tidur dalam sehari semalam lebih dari delapan jam. Boleh kurang dari itu, asalkan kondisi tubuh cukup kuat. Tidak masalah mengistirahatkan tubuh, hati, pikiran dan mata bila telah capek dan terasa lemah dengan pergi bersenang-senang ke tempat-tempat rekreasi sekiranya dengan itu kondisi diri dapat kembali (fresh).

Kesepuluh, meninggalkan pergaulan karena hal itu merupakan hal terpenting yang seyogyanya di lakukan pencari ilmu, terutama pergaulan dengan lain jenis dan ketika pergaulan lebih banyak-main-mainnya dan tidak mendewasakan pikiran. Watak manusia itu seperti pencuri ulung (meniru perilaku orang lain dengan cepat) dan efek pergaulan adalah ketersia-siaan umur tanpa guna dan hilang agama bila bergaul dengan orang yang bukan ahli agama. Jika seorang pelajar butuh orang lain yang bisa dia temani, maka hendaknya dia jadi teman yang baik, kuat agamanya, bertaqwa, wara ', bersih hatinya, banyak kebaikannya, baik harga dirinya (muru'ah), dan tidak banyak bersengketa: bila teman tersebut lupa dia ingatkan dan bila sudah sadar maka dia tolong.

(Diterjemahkan dari kitab "Adabul 'Alim wal Muta' allim" karya KH. M. Asy'ari)

M.Iman Sasraningrat | Bintaro Sektor 4, 15-01-2014 11:39
KISAH NENEK YANG MEMBACAKAN SHALAWAT KEPADA NABI SAW DENGAN SELEMBAR DAUN

DAHULU DI SEBUAH KOTA DI MADURA, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka.Ia menjual bunganya di pasar, berjalan kaki cukup jauh.
Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur.
Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid.

Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.
Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu.
Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat.
Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.

Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut.
Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras.

Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.

“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.

Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu.

Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat, pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya, kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhir tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad saw. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah SWT.
Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang tinggi. Ia tidak dapat mengandalkan amalnya.

Ia sangat bergantung pada rahmat Allah azzawajallah.

Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasulullah.

Berdzikirlah kepada Allah.

Ber-salawatlah kepada Rasul-Nya Rasulullah Saw.

Teruslah begitu hingga berpisahnya Ruh dari raga.




Hadi | Bintaro Sektor 3 A, 15-01-2014 09:07
KEAGUNGAN BAGINDA RASUL NABI MUHAMMAD SAW

Dalam Alqur’an, tidak ada seorang nabi yang dipuji begitu tinggi melebihi Nabi Muhammad SAW.
Dalam satu ayat, Nabi disebut sebagai teladan yang baik (uswah hasanah), yakni tokoh identifikasi atau dalam bahasa sekarang dinamakan role model (QS Al-Ahzab {33}:29).

Dalam ayat yang lain, tidak tanggung –tanggung Allah SWT menyebut Baginda Rasul sebagai manusia dengan pribadi yang benar-benar agung (QS Al-Qolam {68}: 4). Mungkin ada yang bertanya, dari mana keagungan itu dicapai oleh Nabi?.

Keterangan dalam Alqur’an surah Al-An’am bisa menjadi kunci jawabannya. Dalam surah ini, diceritakan nabi-nabi terdahulu, mulai dari Nuh, Ibrahim, Ya’qub, Yusuf, dan lain-lain.
Pendeknya, ada 18 nabi dikemukakan di situ.

Pada ayat ke-90, setelah cerita nabi-nabi itu, lalu Allah menegaskan, “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”.(QS Al-An’am {6}: 9).
Para nabi dan rasul itu adalah mereka yang mendapat bimbingan dari Allah.

Mereka dengan keistimewaan masing-masing tak ubahnya bintang-bintang yang menerangi dan mencerahkan alam dan kehidupan. Nabi Muhammad SAW sebagai pamungkas para nabi, diperintahkan oleh Allah agar mengikuti dan meneladani mereka.

“Maka, ikutilah petunjuk mereka,”firman-Nya. Jadi, Baginda Rasul mewarisi kemuliaan dan keistimewaan nabi-nabi terdahulu sehingga membentuk akumulasi keagungan yang benar-benar agung.
Abbas Mahmud Aqqad dalam “‘Alqariyyatu Muhammad “, menilai keagungan Nabi SAW itu benar-benar sempurna karena terjadi dalam segala ukuran, baik menurut ukuran agama, ilmu pengetahuan, maupun ukuran kehalusan rasa dan keluhuran budi pekerti.

Bahkan, keagungan Nabi diakui oleh orang-orang yang berbeda agama. Jadi, keagungan Nabi diafirmasi bukan hanya oleh sahabat dan para pengikutnya, melainkan juga oleh lawan dan orang-orang yang memusuhinya.
Pada bagian akhir bukunya, Aqqad kembali menunjukkan keagungan Baginda Rasul dengan menjelaskan beberapa karakter atau kualitas yang menjadi kekuatannya.

Aqqad menyebutnya “al-thba’i ‘al-Arba” (empat karakter) yang amat menonjol pada diri Nabi SAW, yaitu: Karakter Ibadah; Karakter Berpikir;Karakter Berkomunikasi; dan Karakter Kerja & Berjuang.
Empat Karakter itu diakui Aqqad jarang menyatu pada diri seorang.

Keagungan Nabi tampak nyata dan memperoleh dukungan amat kuat, baik dalam Alqur’an maupun dalam sejarah, sehingga tak seorang pun dapat menyangkalnya. Sampai-sampai filsuf Muslim asal Pakistan, Muhammad Iqbal, pernah berkata, “Orang boleh jadi tidak percaya kepada Tuhan, tetapi ia tak mungkin ingkar kepada keberadaan dan kebesaran Nabi Muhammad SAW” Wallahu a’lam.


M.Iqbal | Bintaro Sektor 3 A, 09-01-2014 01:37
SUBSIDI DAN NALAR SEHAT ORANG SWISS

Hari-hari ini jika kita membaca berita Koran, melihat talk show di TV dan juga mengikuti diskusi di forum social media di internet, topic utamanya umumnya soal kenaikan harga LPG oleh Pertamina. Para komentator banyak yang menghujat PERTAMINA dan tentu saja juga kementerian BUMN yang menaungi perusahaan penting milik pemerintah tersebut.
Dari jauh saya ikuti perdebatan itu, intinya banyak komentar yang ngawur di kalangan awam, yang masih bisa dimaklumi dan pernyataan cari muka dari para politisi, yang sangat disesalkan.

Masalah kenaikan harga LPG Pertamina sudah sangat jelas, bahwa perusahaan itu selama ini menjual barang dibawah harga produksinya.
Nalar sehat pengusaha dimana pun tidak akan melakukan hal tersebut, tetapi selama ini PERTAMINA terpaksa melakukannya. LPG tabung 12 Kg itu dimaksudkan untuk konsumsi kelas menengah atas, jadi wajar tidak disubsidi. Untuk masyarakat tidak mampu pemerintah sudah memberikan subsidi dalam LPG tabung 3 kg. Saya tidak tahu pertimbangan apa yang menyebabkan PERTAMINA dulu menjual dengan dibawah harga keekonomian, tapi yang jelas, akibat menjual degan harga dibawah ongkos produksi, maka sejak empat tahun terakhir ini perusahaan Negara ini mengalami kerugian per tahun 6 trilyun dari bisnis LPG nya ini. BPK pun memberikan teguran atas terjadinya kerugian tersebut, sehingga PERTAMINA akhirnya menaikkan harga jual LPG, yang juga masih rugi, tapi kira-kira sekarang hanya 2 triliun setahun.

Kalau dihitung secara detil, sebenarnya kenaikan itu hanya membebani konsumen kelas menengah sekitar Rp.1,500 per hari yang jika diuangkan juga tidak bisa membeli apapun. Mungkin untuk perokok, kenaikan itu satu bulan bisa saja sama dengan 3 bungkus rokok. Lumayan. Tapi efek bagi negara, sesuai dengan audit BPK, terjadi potensi kekurangan keuntungan 6 trilyun setiap tahun. Dengan dana 6 trilyun ini sudah berapa sekolah dan puskesmas yang bisa dibangun, berapa ratusan kendaraan bisa dibeli untuk transportasi public.

Belum lama ini, saya bertamu ke rumah teman saya seorang professor di University of St Gallen, Swiss yang rumahnya di pelosok desa. Meski jauh di pelosok desa, yang sangat sepi dan pemandangan alamnya sangat indah, dia tidak mengalami kesulitan kalau harus mengajar di kampusnya di Jenewa atau di St Gallen. Rumah kediaman teman saya itu di wilayah Basel, yang berbatasan dengan Jerman dan Prancis. Tetapi sebagaimana pemukiman lain di Swiss selalu terjangkau oleh kendaraan umum.

Dari dia, saya mengetahui, Swiss itu dulu sangat melarat. Yang dimiliki hanya gunung dan air. Di masa lalu ekspor Swiss hanyalah tenaga manusianya yang bekerja sebagai pasukan bayaran untuk beberapa Negara Eropa lainnya. Salah satu warisannya sekarang ini ialah Swiss Guard yang menjadi pasukan pengawal keamanan Sri Paus di Vatikan yang masih mempertahankan tradisinya hanya merekrut warga Katholik Swiss. Tetapi sejak masyarakat Swiss menggunakan nalar sehatnya dalam mengurus negaranya, maka secara bertahap Swis menjadi modern, maju dan sejahtera. Saat ini Swiss adalah Negara paling makmur di dunia, bahkan ketika Negara Eropa lainnya mengalami krisis ekonomi dan keuangan, Swiss makin terus Berjaya.

Nalar sehat orang Swiss ini diwujudkan dalam format politik pemerintahan maupun perilaku politik para pemimpinnya. Dalam sistem pemerintahan Swiss dari level federal, kanton (provinsi) , kabupaten/kota sampai kelurahan, prinsip kepemimpinannya adalah kolegial. Jadi tidak ada “boss” yang paling berkuasa. Keputusan harus diambil secara musyawarah dan mufakat. Tidak ada anggota kabinet yang merasa lebih berkuasa dari yang lain. Makanya dalam sistem pemerintahan Swiss, presiden, gubernur, walikota dan lurah hanya menjabat setahun secara bergiliran. Tidak ada yang perlu merasa iri.

Sebagai pejabat, mereka tidak mendapat perlakuan istimewa. Hampir empat tahun saya di Swiss, tidak pernah saya melihat ada pejabat Swiss naik mobil dengan iringan patwal polisi. Malahan seringkali para menteri itu naik trem, KA, bus atau kendaraan umum lainnya. Gaji dan fasilitas pun hanya secukupnya saja, bahkan jauh dibawah gaji perusahaan swasta. Mereka pun tidak sembarangan memanfaatkan fasilitas. Meski Swiss negara yang sangat kaya, ketika berkunjung ke Indonesia tahun 2010 yang lalu presiden Doris Leuthard naik pesawat komersial. Dia didampingi suami yang juga harus membayar tiket sendiri.

Setelah mengatur pemerintahannya dengan baik, warga Swiss juga konsekwen mendukungnya dengan membayar pajak. Dari hampir 8 juta warga Swiss, diperkirakan hanya sekitar 20% saja yang tidak membayar pajak pendapatan dan ini karena pendapatan mereka dibawah standar Swiss untuk wajib membayar pajak. Jadi, mereka tidak membayar pajak ini karena tidak mampu. Malahan mereka mendapat bantuan Negara melalui dana jaminan sosial. Bandingkan dengan di Indonesia dimana jumlah pembayar pajak masih kurang dari 15% dari jumlah penduduk. Tapi herannya, warga yang tidak membayar pajak ini begitu banyak tuntutannya kepada pemerintah, minta berbagai macam haknya. Di Swiss, mereka punya prinsip yang sederhana: anda bayar pajak, anda dapat layanan bagus. Anda tidak bayar pajak, negara sulit memberikan layanan yang terbaik. Kunci pembangunan negara memang , salah satunya, dari ketaatan warganya membayar pajak.

Setelah beres dengan urusan pajak, pemerintah membuat alokasi besaran untuk apa pajak dan pendapatan negara lainnya itu. Kebijakan dasar ini ditentukan oleh parlemen dan implementasi detilnya oleh birokrasi pemerintahan. Namun jika rakyat tidak suka dengan keputusan yang diambil, mereka bisa mengajukann petisi untuk menentangnya dan membatalkan peraturan tersebut melalui referendum.

Dalam membuat alokasi anggaran ini, masyarakat Swiss menggunakan paradigma akal sehat. Sebab mereka sadar, negara mereka tidak mempunyai kekayaan apa-apa kecuali air, gunung dan pemandangan alam yang indah. Oleh karenanya, sumber daya tidak boleh diboroskan begitu rupa, terutama sumber daya alam yang tidak terbarukan seperti BBM, gas, dan sebagainya. Mereka menginvestasikan uang pajak pada pendidikan dan kesehatan secara habis-habisan, sebab hanya dengan manusia yang cerdas dan sehat, maka Swiss akan tetap bisa menjadi negara maju dan kompetitif.

Warga Swiss sadar, gas dan BBM harus dihemat, karena itu harganya harus mahal dan dikenakan pajak lingkungan. Ini untuk memaksa masyarakat berhemat dengan BBM dan gas yang harus diimpor. Karena Swiss kaya dengan air, untuk keperluan listrik mereka menggunakan 70% tenaga hidro dan 30 persen tenaga nuklir. Walhasil, ongkos listrik di Swiss jauh lebih murah dari pada di Indonesia. Seorang staf saya yang tinggal di apartemen dengan 3 kamar, rata-rata sebulan hanya perlu membayar 40 CHF ( sekitar 500 ribu). Selain ramah lingkungan, listrik dari tenaga air ini sangat murah dan merupakan energi yang terbarukan. Karena listrik murah, semua peralatan rumah tangga pun lebih efisien dengan tenaga listrik. Kendaraan umum seperti bus kota, trem dan kereta antar kotapun semuanya menggunakan tenaga listrik. Tidak mengherankan jika Swiss salah satu Negara yang lingkungannya paling bersih di dunia.

Untuk mempertahankan kedaulatan pangan, meski sudah tergolong ngara industri maju, Swiss memberikan subsidi besar ke sektor pertanian. Pemerintah pun melakukan larangan konversi lahan pertanian secara sembarangan. Walhasil, di depan Wisma Indonesia di Bern pun yang masih terhitung dalam wilayah ibu kota Bern, masih terhampar luas ladang jagung, gandum, sayur mayur dan peternakan sapi perah. Hampir tiap hari saya dibangunkan oleh lenguhan ratusan sapi milik tetangga saya.

Pelajaran yang bisa dipetik darii Swiss ini, selama pemimpin nasional kita hanya mencari popularitas dan mengesampingkan nalar sehat, dan itu juga disukai oleh masyarakatnya, jangan harap Indonesia akan menjadi maju dan modern. Cepat atau lambat kita akan tersungkur ke krisis lagi seperti krismon tahun 1997 yang lalu, mungkin lebih parah.

Oleh karenanya, dalam masa pemilu ini kita pilih pemimpin yang menggunakan akal sehat dan bukan sekadar popular karena pencitraan. Subsidi hanya diberikan untuk bidang pendidikan dan kesehatan, dan untuk mereka yang benar-benar membutuhkan saja.

Hadi | Bintaro Sektor 3 A, 07-01-2014 12:54
BEKAL MANUSIA............

Disadari atau tidak, MANUSIA ITU IBARAT MUSAFIR YANG SEDANG MELAKUKAN PERJALANAN JAUH.
BEDANYA, perjalanan manusia itu untuk menuju Allah SWT dan kampung akhirat.
Manusia datang dari Allah SWT, Hidup di dunia karena Allah SWT.
Ujungnya, kembali lagi dihadapan Allah SWT dengan cara macam-2. Coba kita cermati keadaan sekitar kita: Keluarga kita (Suami/Isteri, Anak-2, dstnya), Teman-teman, Tetangga kita & Kolega kita. Ada yang kemarin sehat, ketawa, bercanda karena jatuh lalu wafat, ada yang karena sakit kemudian dirawat terus wafat dan seterusnya.

Hidup yang selama ini kita tempuh, merupakan ujian untuk membedakan mana manusia yang baik dan mana manusia yang buruk amalnya. Dan, jelas balasannya berbeda jauh.
Manusia yang baik, jaminannya surga. Manusia yang buruk, siap-siap saja, masuk neraka..
maka, hidup di dunia sejatinya adalaah ladang mencari bekal-bekal terbaik untuk menghadap Sang Pencipta.

ADA SEJUMLAH BEKAL YANG HARUS DIPERSIAPKAN MANUSIA:

PERTAMA, bekal utama kita untuk menghadap Allah SWT adalah TAQWA. Allah SWT berfirman, "Dan siapkanlah bekal karena sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah Taqwa."(QS. Al-Baqarah 197).

KEDUA, bekal kita adalah ILMU. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya, yang takut kepada Allah SWT, dari para hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu". Jangan sampai, amalan yang kita lakukan berbuah sia-sia tanpa dasar Ilmu.

KETIGA, bekal kita adalah TAWAKKAL. Allah SWT berfirman, "Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah SWT, niscaya dia akan mencukupinya" (QS.Ath-Thalaq: 3).

KEEMPAT, bekal selanjutnya adalah SYUKUR. Allah SWT berfirman, "Mengapa Allah SWT akan menyiksa kalian kalau kalian bersyukur dan beriman?" (QS.An-Nisaa: 147). Bentuk rasa syukur itu meliputi Syukur dengan lisan, hati, dan dengan tindakan kita.

KELIMA, bekal kita adalah SABAR. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya, Allah SWT itu menyertai orang-orang yang sabar."(QS.Al-Baqarah: 153). Apapun profesinya, manusia sangat memerlukan kesabaran. Seorang guru tentu memerlukan kesabran dalam mengajar anak-didiknya.
Begitu juga dengan profesi yang lain. Bahkan, orang yang tertimpa musibah juga harus senantiasa bersabar.
Jadikanlah sabar sebagai penolong kita, karena yakinlah Allah SWT bersama dengan orang-orang yang sabar terhadap ujian hidup di dunia.

KEENAM, bekal yang lain adalah ZUHUD (TIDAK MENCINTAI DUNIA). Rasulullah SAW bersabda: "Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah SWT mencintaimu dan janganlah mencintai apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu!" (HR.Ibnu Majah).

TERAKHIR, bekal kita adalah "ITSARUL AKHIRAH (MENGUTAMAKAN AKHIRAT)". Sebagaimana Allah SWT berfirman:" Barangsiapa menghendaki akhirat dan mengusahan bekal untuknya, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah yang dibalas usaha mereka." (QS.Al-Isra': 19).

Hikmah Republika oleh Puji Utomo.


Selamat beraktivitas mencari BEKAL DI "DUNIA" DAN BEKAL DI "AKHIRAT".........semoga selalu dalam bimbingan-Nya....amin yra


hendo | gantung, 28-12-2013 02:47
Asalam,,pembangunan masjid al-karim desa jangkar asam,belitung timur,terhenti karena kekurangan dana,mohon bantuan se iklas-iklas nya untuk membantu,no rek BRI 5803-0100-9581-53-9.sekecil2nya sangat berarti untuk kami,insyaallah dan pasti kekayaan saudara akan berlipat-lipat ganda,Aamiin.
halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next 
 

 

© 2005, Pesantren Al-Hamidiyah - All right reserved